Mendongeng Untuk Kemampuan Berbicara Anak


Kehidupan manusia erat kaitannya dengan bahasa. Bahasa memudahkan manusia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.  Bahasa dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk mentransfer pemikiran, ide-ide, perasaan dan lainnya kepada orang lain. Bahasa dapat pula digunakan untuk membuat orang lain mengetahui apa yang sebenarnya ada dibenak seseorang, apa yang diinginkan, apa yang dianggap benar atau salah, apa yang dirasakan, dan lain-lain.
Bahasa memiliki berbagai bentuk, mulai dari bahasa lisan, tulisan, simbol-simbol yang dapat diartikan, sampai bahasa isyarat. Bahasa juga memiliki perbedaan antara daerah yang satu dengan yang lain, dari mulai perbedaan dalam segi pengejaan, aksen atau logat, penekanan, penulisan, dan sebagainya. Setiap tempat atau wilayah umumnya memiliki ciri khas bahasa tertentu dan memiliki kemiripan dengan bahasa di wilayah yang berdekatan dengannya. Bahasa menjadi salah satu ciri khas dari sebuah komunitas dan merupakan hasil dari kebudayaan, sehingga bahasa erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat dan bersosialisasi antara individu yang satu dengan yang lain.
Salah satu aspek dalam berbahasa adalah berbicara. Sejak lahir secara alami anatomi manusia akan berkembang menuju arah yang lebih sempurna. Langit-langit, rongga mulut, lidah serta organ yang memproduksi suara akan berkembang sesuai usianya. Hal ini juga dipengaruhi oleh rangsangan baik secara verbal ataupun yang berasal dari tekstur makanan yang dikonsumsinya.  Selain perkembangan oralnya, hal lain yang juga menunjang perkembangan berbicara adalah alat pendengaran. Karena dengan alat pendengaran yang berfungsi dengan baik maka manusia dapat dengan mudah menerima segala bentuk suara yang diperkenalkan kepadanya. Melalui suara yang didengar dan dengan kemampuan meniru inilah anak sejak dini akan belajar bagaimana berbicara dan berkomunikasi sesuai dengan perkembangan yang diharapkan. Menurut Gelb, setiap indera bayi di setel untuk menjajaki dan belajar, seperti ilmuwan-ilmuwan cilik, bayi bereksperimen dengan apa saja yang ada dalam lingkungannya. Begitu anak  bisa berbicara, anak-anak mulai mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.[1] Pada masa ini anak menjadi lebih sering menanyakan sesuatu yang ingin diketahuinya, dan dengan kemampuan berbicaralah anak dapat memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru yang berguna bagi dirinya.
Kemampuan berbicara anak dapat dijadikan sebagai modal dasar anak dalam mempelajari hal-hal disekitarnya. Tetapi sangat disayangkan, pada pelaksanaannya, sekolah ataupun lembaga pendidikan untuk anak usia dini umumnya menitikberatkan pembelajaran bahasa anak pada membaca permulaan serta menulis. Berbicara mendapatkan perhatian yang minim, padahal pengembangannya sangat penting dilakukan guna meningkatkan potensi diri anak dalam mempelajari segala hal yang berguna bagi dirinya. Kemampuan berbicara yang dimilikinya, membantu anak dalam mengerti, dimengerti, bertanya, bereksplorasi, berbaur, dan menjadi bagian dari lingkungannya.
 Pada usia prasekolah, anak akan dikenalkan dengan bahasa yang lebih beragam, baik dari guru maupun teman sebayanya. Perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak akan bertambah dengan pesat, begitu pula dengan kemampuan berbicaranya. Sebagai tingkatan awal dalam memperkenalkan kegiatan akademis, lembaga prasekolah harus memiliki sebuah metode yang efektif atau cara untuk mengeksplorasi kemampuan berbicara anak, namun tidak seperti memaksakan. Anak diupayakan dapat menemukan sendiri arti dari apa yang didengarnya, serta mengucapkannya kembali dengan cara dan penempatan yang benar.
              Salah satu metode yang menyenangkan dan dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa adalah  mendongeng. Melalui metode ini, anak diharapkan dapat mengembangkan keingintahuannya tanpa merasakan beban belajar. Mendongeng dapat menghibur anak, selain itu kemampuan mendengar dan berimajinasi anak juga akan terasah sehingga anak akan mengerti apa yang sedang diceritakan. Seperti penjelasan yang diberikan oleh Purnawati, mendongeng merupakan batu loncatan penting dalam membentuk seorang anak. Mendongeng memicu kekuatan berfikir yang super, yang melepaskan per-per imajinasi seorang jenius.[2] Mendongeng juga memiliki manfaat untuk menstimulasi kemampuan berbicara serta respon yang spontan dari anak, seperti salah satu manfaat dari mendongeng yang diungkapkan oleh Leicester dan Johnson, Stimulates talk and spontaneous response. [3]
Dongeng bila disampaikan dengan benar, maka diharapkan dapat menjadi salah satu metode dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak. Maryati memaparkan pandangannya mengenai manfaat mendongeng, manfaat tersebut diantaranya adalah mampu mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbicara anak, mengembangkan daya sosialisasi anak dan yang terutama adalah sarana komunikasi anak dengan orang tuanya.[4] Anak dapat dengan langsung mendengarkan kata-kata serta melihat ekspresi dari guru atau orang lain yang mendongeng untuknya, sehingga kemungkinan anak ingin mencoba untuk meniru akan semakin besar. Selain itu umumnya anak yang merupakan siswa usia prasekolah sangat menyukai cerita, baik berbentuk dongeng, fabel, komik, dan sebagainya, sehingga suasana belajar akan semakin menyenangkan.
Tidak butuh waktu yang lama untuk mendongeng. Bagi anda para pemerhati anak, orang tua, atau pendidik anak, anda hanya perlu meluangkan waktu sebentar untuk mendongen dengan sepenuh hati untuk anak. Jangan hanya sekedar membaca tanpa intonasi atau ekspresi, karena hal tersebut dapat mengurangi esensi dari kegiatan mendongeng tersebut. Seperti pernyataan berikut, mimik, intonasi, gerak bahkan dengan menambahkan sebait lagu dalam cerita, stimulasi melalui dongeng akan menjadi lebih kaya.[5] Melalui mendongeng diharapkan akan terjadi kedekatan antara anak dan pendongeng serta terjadinya peningkatkan kemampuan berbicara, berbahasa, dan selanjutnya akan mendorong aspek kecerdasan lainnya.



[1] Michael J. Gelb, Menjadi Jenius Seperti Leonardo da Vinci (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001) p. 51
[2] Linda Purnawati, “ Keajaiban Mendongeng”, Nova No. 1044/XXI (2008), pp.55
[3] Mal Leicester and Gill Johnson,  Stories For Inclusive Schools (New York: Rautledge, 2007) p.2.

[4] Rudi Maryati, Kekuatan Dongeng, “Jembatan Komunikasi Dengan Anak”, Kompas, 23 Februari 2007, p. 4

0 komentar:

Posting Komentar