Kehidupan
manusia erat kaitannya dengan bahasa. Bahasa memudahkan manusia dalam
menjalankan kehidupannya sehari-hari.
Bahasa dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk
mentransfer pemikiran, ide-ide, perasaan dan lainnya kepada orang lain. Bahasa
dapat pula digunakan untuk membuat orang lain mengetahui apa yang sebenarnya
ada dibenak seseorang, apa yang diinginkan, apa yang dianggap benar atau salah,
apa yang dirasakan, dan lain-lain.
Salah satu aspek
dalam berbahasa adalah berbicara. Sejak lahir secara alami anatomi manusia akan
berkembang menuju arah yang lebih sempurna. Langit-langit, rongga mulut, lidah
serta organ yang memproduksi suara akan berkembang sesuai usianya. Hal ini juga
dipengaruhi oleh rangsangan baik secara verbal ataupun yang berasal dari
tekstur makanan yang dikonsumsinya. Selain
perkembangan oralnya, hal lain yang juga menunjang perkembangan berbicara
adalah alat pendengaran. Karena dengan alat pendengaran yang berfungsi dengan
baik maka manusia dapat dengan mudah menerima segala bentuk suara yang
diperkenalkan kepadanya. Melalui suara yang didengar dan dengan kemampuan
meniru inilah anak sejak dini akan belajar bagaimana berbicara dan
berkomunikasi sesuai dengan perkembangan yang diharapkan. Menurut Gelb, setiap
indera bayi di setel untuk menjajaki dan belajar, seperti ilmuwan-ilmuwan
cilik, bayi bereksperimen dengan apa saja yang ada dalam lingkungannya. Begitu
anak bisa berbicara, anak-anak mulai
mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.[1]
Pada masa ini anak menjadi lebih sering menanyakan sesuatu yang ingin
diketahuinya, dan dengan kemampuan berbicaralah anak dapat memperoleh
pengetahuan-pengetahuan baru yang berguna bagi dirinya.
Kemampuan
berbicara anak dapat dijadikan sebagai modal dasar anak dalam mempelajari
hal-hal disekitarnya. Tetapi sangat disayangkan, pada pelaksanaannya, sekolah
ataupun lembaga pendidikan untuk anak usia dini umumnya menitikberatkan
pembelajaran bahasa anak pada membaca permulaan serta menulis. Berbicara
mendapatkan perhatian yang minim, padahal pengembangannya sangat penting
dilakukan guna meningkatkan potensi diri anak dalam mempelajari segala hal yang
berguna bagi dirinya. Kemampuan berbicara yang dimilikinya, membantu anak dalam
mengerti, dimengerti, bertanya, bereksplorasi, berbaur, dan menjadi bagian dari
lingkungannya.
Pada usia prasekolah, anak akan dikenalkan
dengan bahasa yang lebih beragam, baik dari guru maupun teman sebayanya.
Perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak akan bertambah dengan pesat, begitu
pula dengan kemampuan berbicaranya. Sebagai tingkatan awal dalam memperkenalkan
kegiatan akademis, lembaga prasekolah harus memiliki sebuah metode yang efektif
atau cara untuk mengeksplorasi kemampuan berbicara anak, namun tidak seperti
memaksakan. Anak diupayakan dapat menemukan sendiri arti dari apa yang
didengarnya, serta mengucapkannya kembali dengan cara dan penempatan yang
benar.
Salah satu metode yang menyenangkan dan dapat
digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa adalah mendongeng. Melalui metode ini, anak
diharapkan dapat mengembangkan keingintahuannya tanpa merasakan beban belajar.
Mendongeng dapat menghibur anak, selain itu kemampuan mendengar dan
berimajinasi anak juga akan terasah sehingga anak akan mengerti apa yang sedang
diceritakan. Seperti penjelasan yang diberikan oleh Purnawati, mendongeng merupakan batu loncatan
penting dalam membentuk seorang anak. Mendongeng
memicu kekuatan berfikir yang super, yang melepaskan per-per imajinasi seorang jenius.[2]
Mendongeng juga memiliki manfaat untuk menstimulasi kemampuan berbicara serta
respon yang spontan dari anak, seperti salah satu manfaat dari mendongeng yang
diungkapkan oleh Leicester dan Johnson, Stimulates talk and spontaneous response. [3]
Dongeng
bila disampaikan dengan benar, maka diharapkan dapat menjadi salah satu metode
dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak. Maryati memaparkan pandangannya mengenai manfaat
mendongeng, manfaat tersebut diantaranya adalah mampu mengembangkan daya pikir
dan imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbicara anak, mengembangkan daya sosialisasi
anak dan yang terutama adalah sarana komunikasi anak dengan orang tuanya.[4] Anak
dapat dengan langsung mendengarkan kata-kata serta melihat ekspresi dari guru
atau orang lain yang mendongeng untuknya, sehingga kemungkinan anak ingin
mencoba untuk meniru akan semakin besar. Selain itu umumnya anak yang merupakan
siswa usia prasekolah sangat menyukai cerita, baik berbentuk dongeng, fabel,
komik, dan sebagainya, sehingga suasana belajar akan semakin menyenangkan.
Tidak butuh waktu yang
lama untuk mendongeng. Bagi anda para pemerhati anak, orang tua, atau pendidik
anak, anda hanya perlu meluangkan waktu sebentar untuk mendongen dengan sepenuh
hati untuk anak. Jangan hanya sekedar membaca tanpa intonasi atau ekspresi,
karena hal tersebut dapat mengurangi esensi dari kegiatan mendongeng tersebut. Seperti
pernyataan berikut, mimik, intonasi, gerak bahkan dengan menambahkan sebait
lagu dalam cerita, stimulasi melalui dongeng akan menjadi lebih kaya.[5] Melalui
mendongeng diharapkan akan terjadi kedekatan antara anak dan pendongeng serta
terjadinya peningkatkan kemampuan berbicara, berbahasa, dan selanjutnya akan
mendorong aspek kecerdasan lainnya.
[1] Michael J. Gelb, Menjadi Jenius Seperti Leonardo da Vinci (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001) p.
51
[2] Linda Purnawati, “ Keajaiban
Mendongeng”, Nova No. 1044/XXI (2008),
pp.55
[3] Mal Leicester and Gill Johnson, Stories
For Inclusive Schools (New York:
Rautledge, 2007) p.2.
[4] Rudi Maryati, Kekuatan Dongeng,
“Jembatan Komunikasi Dengan Anak”, Kompas,
23 Februari 2007, p. 4
[5] http://wongawam.blogspot.com/2008/05/perlu-kreatifitas-dalam-mendongeng,
(diakses tanggal 14 November 2008)



0 komentar:
Posting Komentar