Kemandirian Anak


Kemandirian dalam belajar adalah suatu situasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan dan pemahaman serta keterampilan atas prakarsa atau inisiatif dan kemampuan sendiri.[1] Dalam belajar siswa diharapkan tidak tergantung kepada orang tua, guru, dan lingkungannya. Siswa diharapkan mampu mengatasi masalah dalam belajar dengan mandiri.
Proses kemandirian seorang anak atau siswa tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian dalam belajar yaitu kecerdasan kognitif, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, sosialisasi dengan teman sebaya dan lingkungan keluarga.[2]
Kecerdasan koginif adalah kecerdasan atau kemampuan berpikir seseorang berbeda-beda dan dapat diubah atau dikembangkan melalui lingkungan, sebagian ahli juga berpendapat bahwa faktor bawaan turut berpengaruh terhadap keberhasilan lingkungan dalam mengembangkan kecerdasan seseorang. Kecerdasan atau kemampuan kognitif berpengaruh terhadap pencapaian kemandirian seseorang. “Kemampuan bertindak dan mengambil keputusan tanpa bantuan orang lain hanya mungkin dimiliki oleh orang yang mampu berpikir dengan seksama tentang tindakannya, demikian halnya dalam pemecahan masalah.”[3] Hal tersebut menunjukkan kemampuan kognitif yang dimiliki berpengaruh terhadap pencapaian kemandirian remaja. Masalah yang sering kali ditemui pada saat ujian dimana kecepatan siswa dalam menyelesaikan soal yang sulit saat ujian. Siswa dengan kemampuan berfikir cepat akan mengerjakan soal ujian sendiri dan lebih cepat dari waktu yang ditentukan, sedangkan siswa dengan kecerdasan dan kemampuan berfikir rendah mengerjakan soal ujian tidak bisa bekerja sendiri tetapi mencontek pekerjaan temannya.[4]


Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kemandirian seorang anak, baik melalui hubungan dengan teman maupun dengan guru. Guru berperan penting untuk mengarahkan siswa ke dalam pribadi yang mandiri untuk mencapai keberhasilan proses belajar mengajar. Seorang guru akan menjadi contoh bagi murid-muridnya, akan tetapi guru sering kali tidak menyadarinya sehingga banyak guru yang menjadi contoh kurang baik untuk anak didiknya. Seperti yang sering terlihat di lapangan “guru hanya menyampaikan materi-materi pelajaran saja tanpa memperhatikan kondisi siswa, yang mengacu pada sikap siswa dalam kemandirian belajar”[5] sehingga siswa kurang mempunyai inisiatif untuk belajar dan sering kali tergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya.
Faktor ketiga ialah lingkungan masyarakat, di dalam lingkungan masyarakat anak akan menemui banyak orang yang mempunyai karakter berbeda-beda satu dengan lainnya dan dalam lingkungan masyarakat tempat tinggal sering ditemui seorang anak mengalami tekanan untuk mengembangkan suatu pola kepribadian yang sesuai dengan standard budayanya juga sering kali tidak mendukung sikap anak dalam perkembangannya sehingga anak berprilaku tidak mandiri.[6]  Anak akan mengikuti kebiasaan yang ada di lingkungannya, terkadang anak lebih terpengaruh pada kebisaan negatif dari pada kebiasaan yang positif di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya. Manusia merupakan makluk sosial dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Lingkungan masyarakat sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seorang anak.
Faktor ke empat ialah sosialisasi dengan teman sebaya atau seusia. Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dengan teman sebaya (peer), remaja belajar berfikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima bahkan dapat menolak pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam kelompoknya. Melalui sosialisasi dengan teman sebaya, remaja belajar untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri[7]. Di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat anak akan menemui teman yang usianya relatif sama dan menemukan identitasnya sebagai kelompok. Sosialisasi dengan teman sebaya tidak selalu memberikan dampak yang positif tetapi terkadang memberikan dampak negatif, oleh karena  kondisi psikologis yang masih labil disertai dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap sesuatu yang baru, maka tidak sedikit remaja di zaman sekarang ini yang mudah terpengaruh hal-hal negatif dari kelompok teman sebaya. seperti “terlibat dalam tawuran, perampokan, minuman keras dan seks bebas” dengan disibukkannya remaja oleh berbagai hal negatif sebagai salah satu dampak dari sosialisasi teman sebaya maka kegiatan belajar bukanlah menjadi prioritas utama bagi mereka. Hal ini membuat remaja tergantung kepada orang lain dalam melakukan kegiatan belajar di sekolah seperti mencontek pekerjaan teman.[8]
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan sosial paling kecil yang di dalamnya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Salah satu fungsi keluarga adalah memberikan pendidikan yang terbaik yakni pendidikan yang mencakup pengembangan kepribadian serta potensi-potensi yang dimiliki oleh anak. Anak lahir dalam lingkungan keluarga dan dalam pemeliharaan orangtua. Orangtua memikul tugas sebagai pendidik, pemelihara, pengasuh maupun sebagai guru dan pengasuh bagi anak-anaknya. Orangtua merupakan contoh terdekat bagi anaknya. Segala perbuatan yang dilakukan tanpa disadari akan ditiru anaknya, untuk itu sikap orangtua yang bermasalah harus dihindari. Orangtua harus memperhatikan pendidikan, dan perkembangan belajar anaknya.
Interaksi orangtua dengan anak sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak. “interaksi orang tua dengan anak mengubah bayi yang tak berdaya menjadi individu yang bebas dan mandiri”[9]. Pada kenyataannya interaksi yang buruk di lingkungan keluarga salah satunya disebabkan oleh orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaanya sehingga tidak adanya waktu untuk berinteraksi dengan anak. Kesibukan kerja orangtua membuat mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat melakukan berbagai pekerjaan di rumah seperti : membersihkan rumah, memasak, mencuci hingga merawat serta menyediakan semua kebutuhan anak dirumah, dll. Pembantu yang terlalu melayani dan memanjakan anak, terasa positif dan menyenangkan bagi si anak dan orang tua. Akibatnya anak menjadi terbiasa tergantung dan kurang mandiri. Misalnya: segala sesuatu harus dilayani, kebiasaan memerintah kepada orang lain dan kurang kuat dalam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhnannya sendiri.[10] Kedekatan pribadi lain (pembantu) menjadikan anak berkurang kedekatannya dengan orang tua. Padahal kedekatan anak dengan satu pribadi tertentu sangat mempengaruhi perkembangan emosi dan jiwanya. Anak yang cenderung terlalu dekat dengan pembantu membuat orang tua lupa dan tidak dapat mengenal anaknya dengan baik.
Pengaruh keluarga terhadap kemandirian anak terkait dengan peranan orang tua. Pengasuhan yang diberikan orang tua juga turut membentuk kemandirian seseorang. Pada kenyataanya masih banyak orang tua yang mempunyai kuasa penuh terhadap anak,orang tua memaksa anak-anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka, serta cenderung mengekang keinginan anak. Begitu pula sebaliknya orang tua menyerahkan penuh kuasa kepada anak, anak diberi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak mengatur anaknya.[11] Toleransi yang berlebihan, pemeliharaan berlebihan dan orang tua yang terlalu keras kepada anak menghambat pencapaian kemandiriannya. 
Beragamnya gaya asuh dan bentuk penerapanya juga memberikan pengaruh pada keadaan lingkungan fisik maupun nonfisik dalam rumah. “situasi lingkungan keluarga yang ramai atau gaduh tidak memungkinkan anak akan dapat belajar dengan baik, anak akan terganggu konsentrasinya sehingga sulit untuk belajar. Demikian juga situasi lingkungan keluarga yang selalu tegang, selalu cekcok diantara anggota keluarga akan mewarnai suasana keluarga yang melahirkan anak yang tidak sehat mentalnya.”[12] Perhatian orang tua siswa di rumah juga mempengaruhi pola belajar anak di rumah. Banyak orang tua yang mendorong anaknya untuk belajar efektif di dalam maupun di luar rumah, namun tidak sedikit pula orang tua yang lemah dalam pengawasan terhadap anaknya. Mereka membiarkan anaknya meninggalkan tugas sekolah baik untuk sekedar bermain dengan teman maupun untuk kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar. Terciptanya situasi lingkungan keluarga yang kondusif  merupakan salah satu tugas orang tua. “Peranan Orangtua dinilai masih belum sepenuhnya mengkondisikan rumahnya sebagai tempat persemaian untuk tumbuh dan berkembangnya kepribadian anak untuk mandiri.”[13] Bagaimana mungkin orangtua menciptakan situasi lingkungan keluarga sebagai tempat yang kondusif untuk pertumbuhan kemandirian anak dalam belajar, serta akhirnya menyenangi kegiatan belajar dalam kehidupannya sehari-hari, jika Orang tua sendiri belum memberikan contoh yang konkrit tentang kebiasaan yang mengarah pada kegiatan belajar mandiri.
Pengajaran yang paling baik dan efektif adalah pengajaran yang berasal dari keluarga. Dalam hal kemandirian, seorang anak dapat terbentuk kemandiriannya jika hal tersebut juga dibiasakan di lingkungan keluarganya. Keluarga sebagai unit terkecil merupakan entitas pertama dan utama dimana anak tersebut tumbuh dan dibesarkan, dibimbing dan diajarkan nilai-nilai kehidupan sesuai dengan harapan sosial (social expectacy) dimana keluarga tersebut tinggal. Hingga nantinya anak atau remaja siap menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan mampu mengemban amanat besar sebagai penerus estafet perjuangan bangsa.



[1] The Liang Gie, 1985. kemajuan study. Yogyakarta: Pusat kemajuan studi
[3] Basri, Hasan. 2000. Remaja Berkualitas. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset)h.52
[4] //http.google.com//kemandirian.htm di akses tanggal 19 Februari 2010                                      
[5] Ibid.54
[6] //.google.com//anak_mandiri.htm diakses tanggal 18 juli 2010
[7] file:/ KEMANDIRIANblog-post.html diakses tanggal 18 Oktober 2010
[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi diakses tanggal 23 oktober 2010
[9]  John W.Santrok 191
[11] http://hubungan-orangtua-dengan-anak.html diakase tanggal 23 Juli 2010
            [12] http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1206 diakses tanggal 21 Juli 2010
                [13] http://gudangmakalah.blogspot.com/2009/09/ diakses tanggal 20 Agustus 2010

0 komentar:

Posting Komentar