Mengajarkan Perdamaian melalui Olahraga


Olah raga merupakan kegiatan yang umumnya dilakukan oleh seseorang untuk menjaga kesehatannya. Olah raga dijadikan suatu kegiatan yang secara berkala dilakukan ataupun menjadi kegiatan rutin bagi komunitas tertentu. Lebih dari itu, olah raga juga dapat dijadikan sebagai sarana edukasi, rekreasi, meraih prestasi, bahkan sebagai salah satu sarana untuk menyebarkan dan menyalurkan nilai-nilai perdamaian.
Salah satu organisasi di dunia yang menjadikan olah raga sebagai sarana untuk mengajarkan perdamaian adalah Generations For Peace. Generations For Peace adalah Organisasi Global yang diprakarsai oleh HRH Prince Feisal Al Hussein dari Jordania, yang memiliki tujuan untuk memberikan kontribusi terhadap kebutuhan dunia akan sikap TOLERANSI dan PENGERTIAN, khususnya antara komunitas-komunitas yang mengalami konflik; dengan tujuan akhir memimpin dalam menciptakan dunia yang damai. Pertama kali diluncurkan di Jordania pada bulan April 2007, Generations For Peace menggunakan Olahraga untuk membekali para pemimipin yakni para pemuda dari daerah-daerah yang “hostile” untuk bergerak sebagai “Agent of Change” untuk membantu menanamkan TOLERANSI, PENGERTIAN dan memperoleh suatu kondisi DAMAI. Melalui visi dan misinya untuk menciptakan perdamaian dunia, Generations For Peace mengajarkan Sport Peace Education dan bagaimana cara menurunkan (cascading) program-programnya pada komunitas dan daerah masing-masing
            Banyak hal yang dipelajari dalam pelatihan organisasi ini atau yang biasa disebut sebagai kemah perdamaian (peace Camp). Dalam pelatihan yang berlangsung kurang lebih dua minggu, para peserta yang berasal dari berbagai negara, belajar bersama memahami perdamaian, menghargai perbedaan, dan bagaimana menyebarkan nilai-nilai perdamaian melalui kegiatan-kegiatan olah raga yang sederhana. Melalui tutor-tutor yang juga berasal dari negara-negara yang berbeda seperti Amerika, Perancis, Jordania, Inggris, Nigeria dan sebagainya, peserta yang berjumlah 80 orang dan berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia dapat belajar mengenai banyak hal. Materi dasar yang diajarkan adalah bekerja dengan anak-anak (working with children), melatih para pelatih (training the trainers), hukum dan menjalin kerjasama (advocacy and partnership), dan membangun perdamaian (peace building). Melalui materi tersebut, diharapkan para peserta dapat menggerakan kegiatan serupa dengan GFP di negara mereka masing-masing.

13 Alasan penggunaan Teknologi Pendidikan Dalam Pembelajaran

Artikel yang akan  dibahas kali ini adalah artikel yang memuat mengenai 13 alasan untuk menggunakan teknologi pendidikan dalam pengajaran. Diantaranya adalah :

1.  Penggunaan TIK dalam pengajaran dengan baik, akan meningkatkan pemahaman dan pencapaian siswa untuk mata pelajaran yang dipelajari. Ini dapat terjadi karena TIK yang sesungguhnya lebih menitik beratkan terhadap pemahaman pemikiran dibandingkan dengan pemahaman mengenai perangkjat lunak itu sendiri.
2.     TIK dapat menyediakan baik sumber maupun kerangka pendagogik yang memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri. Maksudnya, TIK dapat disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak, tingkat perkembangannya, kemudian menyusuaikan tugas serta umpan balik untuk anak tersebut. Jika digunakan dengan baik dan bijaksana, maka akan menghasilkan pembelajaran yang baik untuk siswa.
3.    TIK memberikan dasar pembelajaran yang sama. Mengingat semua program, perangkat lunak dank keras dirancang serupa, maka anak dengan kebutuhan khusus tertentupun dapat melakukan pembelajaran yang sama dengan yang normal.
4.   TIK dapat memotivasi siswa. Hal ini dimungkinkan karena siswa dapat dengan bebas menciptakan sesuatu tanpa takut akan diberi label buruk oleh guru. Siswa juga menganggap TIK tidak memihak ataupun menghakimi dalam memberikan umpan balik.
5.     TIK memungkinkan siswa dapat mengakses data yang sulit ataupun tidak mungkin untuk dijangkau, misalnya, data mengenai luar angkasa yang tidak mungkin dikunjungi langsung oleh siswa.
6.    TIK memungkinkan siswa untuk mengumpulkan data yang memakan waktu ataupun mahal untuk mendapatkannya. Contohnya mereka dapat mengungah film pendidikan dari computer, atau mendengarkan karya-karya Mozart dari CD.

Kemandirian Anak


Kemandirian dalam belajar adalah suatu situasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan dan pemahaman serta keterampilan atas prakarsa atau inisiatif dan kemampuan sendiri.[1] Dalam belajar siswa diharapkan tidak tergantung kepada orang tua, guru, dan lingkungannya. Siswa diharapkan mampu mengatasi masalah dalam belajar dengan mandiri.
Proses kemandirian seorang anak atau siswa tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian dalam belajar yaitu kecerdasan kognitif, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, sosialisasi dengan teman sebaya dan lingkungan keluarga.[2]
Kecerdasan koginif adalah kecerdasan atau kemampuan berpikir seseorang berbeda-beda dan dapat diubah atau dikembangkan melalui lingkungan, sebagian ahli juga berpendapat bahwa faktor bawaan turut berpengaruh terhadap keberhasilan lingkungan dalam mengembangkan kecerdasan seseorang. Kecerdasan atau kemampuan kognitif berpengaruh terhadap pencapaian kemandirian seseorang. “Kemampuan bertindak dan mengambil keputusan tanpa bantuan orang lain hanya mungkin dimiliki oleh orang yang mampu berpikir dengan seksama tentang tindakannya, demikian halnya dalam pemecahan masalah.”[3] Hal tersebut menunjukkan kemampuan kognitif yang dimiliki berpengaruh terhadap pencapaian kemandirian remaja. Masalah yang sering kali ditemui pada saat ujian dimana kecepatan siswa dalam menyelesaikan soal yang sulit saat ujian. Siswa dengan kemampuan berfikir cepat akan mengerjakan soal ujian sendiri dan lebih cepat dari waktu yang ditentukan, sedangkan siswa dengan kecerdasan dan kemampuan berfikir rendah mengerjakan soal ujian tidak bisa bekerja sendiri tetapi mencontek pekerjaan temannya.[4]


Pendidikan Indonesia dan Fasilitas Belajar


Abad 21 dikenal sebagai era globalisasi dan informasi. Dalam era ini laju informasi berjalan dengan sangat cepat. Segala sesuatu yang terjadi di seantero dunia dapat diakses dan diketahui dalam hitungan detik. Begitu juga masalah-masalah budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat. Persaingan dalam seluruh segmen kehidupan terjadi dan terbuka lebar. Dalam upaya menjawab tantangan ini, maka perlu adanya perkembangan sumber daya manusia yang diprioritaskan. Salah satunya melalui pendidikan.
Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting untuk meningkatkan kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian serta mempertebal semangat kebersamaan agar dapat membangun diri sendiri dan besama-sama membangun bangsa. Disamping itu pendidikan merupakan bagian yang penting bagi manusia, karena pendidikan menyangkut kelangsungan hidup manusia. Manusia muda tidak hanya cukup tumbuh dan berkembang dengan dorongan dalam dirinya saja, melainkan perlu bimbingan dan dorongan dari luar dirinya agar menjadi manusia sempurna.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab I pasal 1 menyatakan :
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara Begitu pentingnya pendidikan bagi diri sendiri, Masyarakat maupun bangsa dan negara, sebagai wujud perhatian negara Republik Indonesia, maka pemerintah berusaha meningkatkan mutu pendidikan sekarang ini.[1]



Mendongeng Untuk Kemampuan Berbicara Anak


Kehidupan manusia erat kaitannya dengan bahasa. Bahasa memudahkan manusia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.  Bahasa dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk mentransfer pemikiran, ide-ide, perasaan dan lainnya kepada orang lain. Bahasa dapat pula digunakan untuk membuat orang lain mengetahui apa yang sebenarnya ada dibenak seseorang, apa yang diinginkan, apa yang dianggap benar atau salah, apa yang dirasakan, dan lain-lain.
Bahasa memiliki berbagai bentuk, mulai dari bahasa lisan, tulisan, simbol-simbol yang dapat diartikan, sampai bahasa isyarat. Bahasa juga memiliki perbedaan antara daerah yang satu dengan yang lain, dari mulai perbedaan dalam segi pengejaan, aksen atau logat, penekanan, penulisan, dan sebagainya. Setiap tempat atau wilayah umumnya memiliki ciri khas bahasa tertentu dan memiliki kemiripan dengan bahasa di wilayah yang berdekatan dengannya. Bahasa menjadi salah satu ciri khas dari sebuah komunitas dan merupakan hasil dari kebudayaan, sehingga bahasa erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat dan bersosialisasi antara individu yang satu dengan yang lain.